Home » , , , , , , » Korban Ikhlas

Korban Ikhlas

Written By Nasrul Alimuddin on Saturday, March 28, 2015 | 8:31 AM


Beberapa dalih yang selalu ditujukan kepada para OPS Korban Ikhlas dapodik saat ini:

"yg dibutuhkan utama OPS itu harus ikhlas dan siaga 24 jam...he..he..."

"Sejuta...eh setuju msksudnya... Hidup OPS kaulah pahlawan tanpa tanda jasa yg sebenarnya."

"Nggak dapat apa-apa dari siang malam, kerja dapodik hasilnya nihil, ikhlas beramal"

"Anggaplah pekerjaan ini adalah sebuah amalan, ikhlaskan saja dulu..."

"Bekerjalah secarah ikhlas, perlahan-lahan reski akan datang sendirinya..."

"Tetap semanga pak, ikhlaskan saja"

Ini adalah dalih-dalih yang selalu diandalkan oleh atasan dan ikut mengacaukan pemahaman orang awam...

Yang memperkerjakan orang tanpa imbalan, sikapnya juga sangat keterlaluan, ini sudah masuk dalam bentuk kezaliman...

Bentuk kezalimannya adalah merampas hak dari jasa yang telah diberikan tanpa adanya penghargaan yang dapat mengantarkan orang itu kehidupannya menjadi semakin layak, sebab manusia bekerja bukanlah dari sebab keinginan melainkan dari sebab kebutuhan. Kezaliman ini termasuk juga dalam bentuk menghalangi hak-hak penunaian...

Ingat “Dunia akan lestari bersama keadilan walau diiringi kekafiran, dan tidak akan lestari bersama kezaliman walaupun diiringi islam.”

Sebuah negara tidak pernah lepas dari kepelikan dan selalu dirisau oleh masalah jika warganya tidak pernah adil dalam melaksanakn tugasnya. Sebuah Instansi Pendidikan di dalamnya tidak akan pernah lepas dari masalah-masalah pengurusan berkas jika didalamnya tidak ada keadilan. Salah satu wabahnya adalah anak-anak peserta didik atau siswa tidak bisa diatur, kurangnya kedisiplinan, tidak mendengarkan kata guru, mengabaikan pelajaran dan sebagainya, keseringan bolos, berkelahi, tawuran, pecandu narkoba dan sebagainya...

*Tentang kebutuhan
Abraham Maslow pada tahun 1943 dalam makalahnya “A Theory of Human Motivation” menyebutkan kebutuhan manusia yang terdiri dari 4 bagian :
  • Esteem (Percaya diri) yang timbul ketika terpenuhinya kebutuhan seperti dihargai dan menghargai orang lain, pencapaian atau keberhasilan, penghargaan atas karyanya.
  • Love/belonging (Cinta/memiliki) yang timbul ketika terpenuhinya kebutuhan seperti pertemanan, keluarga, ketergantungan sesama.
  • Safety (Keselamatan) yang timbul ketika terpenuhinya kebutuhan seperti kemanan dari keluarga, keamanan dalam kesehatan, keamanan dalam sumber daya seperti uang.
  • Dan yang paling bawah atau dasar adalah Physiological (Fisiologi) yang timbul ketika terpenuhinya kebutuhan seperti bernafas, makanan, air minum.
Kerja ikhlas bukan berarti kerja tanpa mengharapkan gaji/honor. Kerja ikhlas dalam hal ini dapat diartikan kerja yang dilakukan tanpa keluh kesah. Segala jerih payah bahkan rasa lelah tidak dirasakan suatu beban yang berat.

Yang pertama adalah Esteem (Percaya diri), ini adalah kebutuhan kita yang paling pertama, dan agar bisa terpenuhi kebutuhan itu diperlukan adanya rasa saling menghargai. Jika apa yang kita capai dan apa yang kita karyakan dihargai dengan gaji atau hal-hal yang rendah, itu dapat menyebabkan tidak adanya rasa percaya diri dan pastinya kita merasa kurang dihargai, dan tidak ada nilainya sama sekali, ini dapat membuat seseorang bisa mendeg, berhenti di tengah jalan.

Kebutuhan yang kedua adalah Love/belonging (Cinta/memiliki), dengan adanya kebutuhan ini, kita selalu berupaya menciptakan suasana kantor yang nyaman agar di dalamnya lahir rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan sehingga akhirnya ada rasa saling ketergantungan satu sama lain, senasib sepenanggungan. Kebutuhan yang lain adalah adanya rasa cinta kasih kepada keluarga kita, bekerja siang malam agar kebutuhan orang yang kita sayangi tercukupi, agar kita memenuhi kewajiban kita atas kelayakan keluarga kita.

Kebutuhan yang ketiga adalah Safety (Keselamatan), ini adalah kebutuhan yang lain yang harus terpenuhi seperti keamanan dari penyakit (pola hidup yang sehat), kemanan keluarga kita (butuh rumah), keamanan sumber daya (butuh uang)

Dan yang terakhir adalah Physiological (Fisiologi), Fisik kita juga pastinya butuh udara segar, makanan, minuman, dan semuanya itu dapat terpenuhi jika ketiga kebutahan di atas terpenuhi. Dengan adanya finansial kita bisa menciptakan lingkungan yang bersih, kemiskinan hanya menyebabkan lingkungan kelihatan kumuh, banyak di pinggiran-pinggiran kota saudara-saudara kita membangun rumah tampak seperti gubuk karena kurangnya penghasilan, dan ini membuat pemandangan kota semakin tidak asri dan pastinya udara disekitar itu juga ikut kotor dan bauh karena buang sampah sembarang tempat dan lingkungannya juga kelihatan kering.

Korban Ikhlas

Kita kembali ke topik pembicaraan, korban ikhlas. Banyak orang yang salah anggapan dan memaknai kata keikhlasan sebagai kepasrahan hidup. Hanya karena jasanya tidak dibayar sebagaimana mestinya, kemudian ia menerima begitu saja, itu bukan ikhlas tapi kepasrahan dan anda sudah menunjukkan bahwa diri anda tidak memiliki rasa tanggungjawab kepada keluarga anda, dan tidak membela rasa sayang anda kepada keluarga anda, sehingga anda tidak dibayar pun atas jasa-jasa yang anda berikan anda merasa tidak keberatan juga lalu berdalih 'harus ikhlas'. Keluarga anda butuh makanan, butuh kelayakan, bukan menjadi korban dan salah mengartikan arti dari kata 'ikhlas'

Yang salah itu, ketika anda menuntut hak sementara kewajiban anda tidak anda laksanakan atau anda tidak melakukan apa-apa lalu mnuntut hak, itu namanya uji nyali dan mencari bentrokan...

Ingat!!!
Rasa Sayang hanya memunculkan perjuangan agar haknya terpenuhi, membela haknya mati-matian agar haknya terpenuhi karena sudah memberikan jasa atau layanan, dan memang sudah sepantasnya mendapatkan kelayakan semacam itu karena sebagian besar waktu terbuang banyak dari layanan jasa yang diberikan sementara keluarga kita juga harus terpenuhi kebutuhannya. Dari waktu yang terbuang banyak itulah bersama jasa yang diberikan yang harus dituntut agar tergantikan dengan kelayakan pemenuhan kebutuhan dan tentunya kebutuhan keluarga kita.

*Tentang Memperkerjakan Orang Tetapi Ia tidak Memberikan Upahnya atau Memberikan Upah yang tidak Sebanding dengan Pekerjaannya

Bukhari dan yang lainnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
ثَلاَثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ , وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأكَلَ ثَمَنَهُ , وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيْرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ
“Tiga Jenis (manusia) yang Aku akan menjadi musuhnya kelak pada hari kiamat, yaitu: seseorang yang memberi dengan nama-Ku, kemudian berkhianat; seseorang yang menjual orang yang merdeka (bukan budak), kemudian memakan uangnya; dan seseorang yang mempekerjakan pekerja dan telah diselesaikan pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan upahnya.”

Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dan Thabrani meriwayatkan dari Jabi radhiallahu ‘anhu serta Abu Ya’la juga meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْطُوا الأَجِيْرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.”

Hadis di atas menjelaskan tentang agar sebaiknya gaji atau upah secepatnya diberikan dan dosa yang teramat bagi yang menghalangi reski orang dengan begitu lama menahan gaji atau upah pekerja.

“Dan setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Allah mencukupkan balasan perbuatan mereka, dan mereka tidak dirugikan.” (AlAhqaf: 19)

“…Dan kamu tidak akan diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan."(Yaasin: 54)

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa pekerjaan seseorang akan dibalas menurut berat pekerjaannya. Ini sangat menjelaskan bahwa perbedaan upah diperbolehkan untuk pekerjaan yang berbeda dan menurut kadar pekerjaannya. Islam menghargai keahlian dan pengalaman.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi.” (AsySyu’ara: 183)

Mengurang-ngurangi hak orang termasuk perbuatan yang merusak, ini juga adalah perbuatan dosa, dalam hal ini sudah banyak terjadi di lapangan hingga memasuki lingkungan pendidikan, gaji honor yang terbilang jumlahnya sedikit masih dipotong lagi, benar-benar kemungkaran sudah merajalela.

Para pembaca yang budiman, mudah-mudahan setelah membaca artikel ini anda tidak lagi menjadi korban dari perkataan 'ikhlas'

Semoga artikel ini dapat memberikan pemahaman kepada kita semua agar senantiasa menjunjung harkat dan martabat saudara-saudara kita tanpa memandang SARA dengan tidak mengurangi hak-haknya.

"Rasa ketakutan akan akibat dari perbuatannya yang merusak hanya bermunculan di hati orang-orang yang bertakwa..." (Salam Admin)


Share this article :

Published By : Nasrul Alimuddin ~ SIP from PTK

Terimakasih telah membaca Korban Ikhlas...!!! Artikel ini dipublikasikan oleh Nasrul Alimuddin pada hari Saturday, March 28, 2015. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, anda dapat mengklik tombol berbagi atau tombol 'Share' yang terletak di setiap bawah postingan. Adapun kritik dan saran tentang Korban Ikhlas dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

:: Salam Admin ::

Komentar Sahabat
0 Komentar Sahabat